GAZA – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk drastis setelah Badai Byron menerjang wilayah tersebut dengan angin kencang dan hujan tanpa henti. Menurut Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza, badai ini telah menewaskan 14 warga Palestina dan melukai banyak lainnya.
Para korban tewas adalah keluarga pengungsi yang sudah sangat rentan akibat serangan dahsyat Israel. Badai tersebut menyebabkan bangunan yang sudah rapuh dan tenda-tenda darurat menjadi “jebakan mematikan”.
Korban Jiwa dan Suhu Ekstrem
Kematian dilaporkan akibat runtuhnya bangunan dan paparan suhu dingin yang ekstrem, khususnya pada anak-anak:
- Runtuhnya Tempat Berlindung: Lima orang tewas di Bir an-Naaja, Gaza utara, ketika sebuah rumah yang menampung pengungsi sipil ambruk pada Jumat (12/12/2025). Dua orang lagi tewas di lingkungan Remal, Kota Gaza, akibat tembok yang roboh menimpa tenda.
- Ancaman Suhu Dingin: Staf medis melaporkan peningkatan kematian anak akibat hipotermia.
- Seorang bayi baru lahir di al-Mawasi dan bayi Taim al-Khawaja di kamp Shati meninggal karena suhu dingin.
- Rahaf Abu Jazar, delapan bulan, di Khan Younis meninggal setelah tendanya kebanjiran, dengan suhu tubuhnya turun drastis hingga 33-34 derajat Celsius, menyebabkan kerusakan organ. Keluarganya sebelumnya berlindung di rumah tanpa atap akibat pemboman.
Pengungsian Kedua: “Perang Baru Telah Dimulai”
Pelapor Al Jazeera, Ibrahim al-Khalili, melaporkan bahwa Badai Byron secara efektif menciptakan “lapisan penderitaan tambahan”. Tempat perlindungan yang awalnya darurat kini hancur, memaksa keluarga-keluarga yang sudah terusir untuk kali kedua.
Para pejabat memperingatkan bahwa sekitar 850.000 orang, yang berlindung di 761 lokasi, menghadapi ancaman banjir dan hujan es.
Mengutip ungkapan warga, Al-Khalili menyimpulkan:
“Ini bukan sekadar badai; ini adalah gelombang pengungsian baru… Banyak orang di sini mengatakan kepada saya bahwa perang baru benar-benar telah dimulai setelah banjir ini.”
Badai Byron memperparah kondisi infrastruktur pesisir yang sudah rusak, memaksa warga untuk meninggalkan tempat perlindungan rapuh yang didirikan dekat laut. (Admin)


